Terinspirasi Sosok Orang Tua Sejak Kecil
Setiap anak biasanya memiliki sosok pahlawan pertama di dalam hidupnya. Bagi saya pahlawan itu adalah orang tua saya sendiri yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Sejak kecil saya terbiasa melihat keberanian, seragam kebanggaan, dan dedikasi tinggi petugas damkar saat berjuang memadamkan api demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Rasa kagum masa kecil itu menumbuhkan impian yang kuat di hati saya untuk suatu saat bisa merasakan langsung bagaimana kerasnya gemblengan fisik dan mental menjadi seorang pemadam kebakaran terlatih.

Berangkat Sendiri Lewat Jalur Mandiri ke Ciracas
Bulan September 2019 menjadi momen pembuktian mimpi tersebut. Saya mendaftarkan diri mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Pemadam I Program 45 Jam di Pusdiklatkar Ciracas Jakarta Timur yang berlangsung selama satu minggu penuh.
Hal yang paling menarik waktu pertama kali berkumpul di aula adalah latar belakang peserta. Mayoritas peserta diklat merupakan utusan dinas resmi penanggulangan kebakaran dan Satpol PP dari berbagai daerah se-Indonesia, mulai dari Kota Bekasi, Penajam Paser Utara, Madiun, hingga Buleleng Bali. Di antara puluhan aparatur kedinasan tersebut, saya hadir sendirian mewakili jalur swasta atau mandiri atas kemauan pribadi.
Momen Seru Jadi Korban Simulasi Perban Luka
Materi pelatihan di Pusdiklatkar Ciracas sangat padat dan menuntut konsentrasi tinggi. Kami diajarkan formasi penyerangan api, penggelaran selang bertekanan tinggi, penyelamatan di ruang sempit, hingga pertolongan pertama pada korban bencana.
Ada satu momen lucu dan penuh kebersamaan saat sesi praktik penanganan medis darurat. Saya ditunjuk oleh tim dan instruktur untuk menjadi model korban simulasi kecelakaan. Seluruh badan saya mulai dari kepala, tangan kanan, hingga kedua kaki dibalut perban putih rapat layaknya korban luka berat.

Meskipun harus duduk diam menahan gerah perban tebal, tawa lepas dan kebersamaan dengan rekan-rekan peserta dari berbagai suku dan daerah mencairkan rasa lelah setelah seharian latihan fisik di lapangan.
Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan kesiapan untuk melangkah maju demi membantu sesama saat situasi genting terjadi.
Pelajaran mental dari para instruktur damkar di Ciracas selalu tertanam kuat di hati saya dalam menghadapi tantangan apa pun di kehidupan sehari-hari.
Membawa Pulang Piagam Peringkat Tiga Terbaik
Kerja keras dan keseriusan saya menyerap seluruh materi teori serta praktik lapangan membuahkan hasil yang sangat membanggakan. Pada upacara penutupan tanggal 20 September 2019, nama saya dipanggil untuk menerima penghargaan.
Saya berhasil meraih Peringkat III (Tiga) Terbaik pada program diklat tersebut dan mendapatkan piagam penghargaan resmi yang ditandatangani langsung oleh Kepala Pusdiklatkar DKI Jakarta.

Bisa berdiri sejajar dan bahkan meraih peringkat terbaik di antara rekan-rekan utusan kedinasan daerah menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya dan keluarga di rumah.
Nilai Pantang Menyerah
Meskipun jalan hidup dan karir profesional saya saat ini banyak berfokus pada teknologi web dan infrastruktur cloud, pengalaman digembleng di Pusdiklatkar Ciracas membentuk karakter saya menjadi pribadi yang tahan banting, disiplin, dan terbiasa bekerja tenang di bawah tekanan tinggi.
Saya bersyukur pernah mewujudkan cita-cita masa kecil tersebut dan membuktikan bahwa tekad yang kuat akan selalu menemukan jalannya.
Kalau kamu punya mimpi masa kecil yang sempat tertunda atau ingin berbagi cerita perjuangan serupa, pintu komunikasi saya selalu terbuka lewat email di mail@faaizyahya.my.id atau melihat portofolio lengkap saya di faaizyahya.my.id.
